Rabu, 12 Maret 2014

AGAMA, BUDAYA DAN ADAT NEGERI TIHULALE




1.       PENGERTIAN AGAMA
                Pengertian Agama sebagaimana dituliskan di dalam Ensiklopedi Masa Kini (New Bibble Dictionary, Press 1990), yang di dalam bahasa Yunani di sebut Triskia, berarti ungkapan lahiriah dari kepercayaan. Kemudian di dalam  Ensiklopedi  Indonesia (Ichtiar Baru Van Hoeve Jakarta 1980) di sebut :
a.     Agama menurut pengertian gooddiest atau religie (Belanda) arau religion (Inggris) pada umumnya berarti : Hubungan anntara manusia dan suatu kekuatan luar yang lain yang lebih dari pada apa yang dialami manusia.
b.      Istilah untuk menyebutkan kelompok kepercayaan berdasarkan wahyu Tuhan sebagaimana tercantum dalam Kitab Suci yang di yakininya.
c.     Kebiasaan-kebiasaan , tradisi, berdasarkan Kitab Suci. Himpunan peraturan keagamaan yang dipergunakan sebagai pedoman hidup dalam masyarat, berguna untuk peningkatan kerohanian dan mencapai kesempurnaan.
d.    Kepercayaan dan kesadaran manusia akan adanya Tuhan Yang Maha Esa serta Kekuasaanya melebihi dari segala yang ada.

        Secara umum dilihat dari sumber agama ada dua katagori yaitu agama Samawi, yakni agama yang di wahyukan dan agama wadi yaitu agama sebagi hasil pemikiran manusia.
Yang di maksud dengan agama Samawi ialah :
1.       Agama Yahudi
2.       Agama Kristen
3.       Agama Islam

Ciri-ciri Agama Samawi  
1.       Konsep ke Tuhanannya berdasarkan monotheisme.
2.       Disampaikan oleh utusan Tuhan (Nabi maupun Rasul)
3.       Mempunyai kitab suci yang di bawa oleh para utusan tersebut.
4.       Tidak berubah dengan perubahan penganutnya.
5.       Kebenaran ajaran dasarnya tahan terhadap kritik akal.
6.       Sistem merasa dan berpikir nya tidak sama dengan sistem berpikir masyarakat pengikutnya.


2.       PENGERTIAN BUDAYA
           Menurut definisi dari Sir Edward B Taylor ((abab 19) cultur=kultuur=budi dan daya, budaya adalah kompleks  yang terbentuk di dalam sejarah dan terus menerus dari angkatan ke angkatan melalui tradisi yang mencakup organisasi sosial, ekonomi, agama, kepercayaan, kebiasaan, hukum, seni, dan ilmu. Jadi kebudayaan mencakup rohani, maupun maddi (material), baik potensi-potensi maupun keterampilan Di dalam percakapan sehari-hari kebudayaan kerap kali di batasi dengan pengertian seni dan ilmu. Di dalam arti ini orang berbudaya artinya adalah orang yang berilmu dan mencintai seni.
             Sementara dalam Ensiklopedia Bebas Budaya atau kebudayaan berasal dari  bahasa sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Jadi Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" di Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina.Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka. Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

3.       PENGERTIAN ADAT
           Perkataan  “ Adat “ ( Bahasa Arab  “ ADA “dan istilah “ URF ” berasal dari bahasa Arab kemudian masuk ke  dalam bahasa Indonesia, berarti sesuatu yang dianggap baik sehingga dipelihara, diteruskan dan dilakukan secara berulang – ulang. Dalam bahasa negeri Tihulale dikenal istilah “ ADATE “.
Adat disebut pula “ URF “ yang berarti sesuatu yang dikenal, diketahui dan diulang – ulangi serta menjadi kebiasaan dalam masyarakat, berupa kata- kata atau macam – macam bentuk perbuatan.
Unsur pembentukan adalah pembiasaan dalam kehidupan manusia, terus menerus dan menjadi kelaziman yang diturut atau dilakukan sejak dahulu kala. Adat yang melembaga berisi norma atau nilai perbuatan yang harus dilakukan dan meninggalkannya dapat dihukum oleh masyarakat sesuai dengan sanksi yang berlaku, dicemooh, menganggap sepi atau pengucilan terhadap yang meninggalkannya atau bahkan diusir dari negeri.
a.       Mode , adalah adat yang berisi kebiasaan yang baru atau sementara /  kekuasaan yang sementara.
b.      Tradis,  adalah adat yang melembaga dan berjalan lama sekali serta turun temurun.
c.     Upacara ( Ritus atau Ritual ) adalah adat yang dipakai dalam merayakan hal – hal resmi atau pemujaan.
d.      Etiket adalah tata cara dalam masyarakat yaitu sopan santun dalam memelihara yang hubungan baik antara  sesama manusia.
e.     Hukum adalah perkembangan secara tertulis dari segalah macam adat dan norma yang harus di taati oleh semua anggota masyarakat, yang penyelewengannya dapat di hukum dengan hukuman penjara, pembayaran denda bahkan hukuman mati.
f.     Folks-Ways adalah adat basa-basi yang umumnya dijalankan dalam masyarakat Barat sehari-hari, karena dianggap baik dan menyenangkan seperti datang melawat bilamana ada kenalan yang meninggal dan sebagainya. Meninggalkannya tidak akan di hukum atau di cela, tetapi dianggap lebih baik bila dijalankan.



J.W. AJAWAILA (Universitas Pattimura) Mengatakan beberapa penulis mengemukakan bahwa adat adalah semua pemikiran yang teguh (strong ideas), tentang benar dan salah yang menuntut tindakan dan melarang yang lain. Adat adalah kepercayaan terhadap kebenaran dan kesalahan dari tindakan‑tindakan kelompok masyarakat (Mintargo : 2000). Adat juga diartikan sebagai sebuah sistem nilai budaya. Sistem nilai budaya ini merupakan pedoman yang memberikan arah dan orientasi terhadap hidup dari suatu kelompok masyarakat dan mengatur perilaku anggota kelompok masyarakat tersebut (Kuntjaraningrat: 2002). Sering adat juga diartikan sebagai aturan (perbuatan) yang lazim diturut sejak dahulu kala sebagai suatu kebiasaan perilaku sehingga ia merupakan wujud nilai-nilai budaya, norma hukum dan aturan-aturan yang satu dengan lainnya berkaitan menjadi suatu sistem yang dijadikan acuan bagi tata kehidupan sebuah komunitas (Kawi 2003). Dengan demikian adat terdiri dari berbagai norma dan aturan yang dipatuhi oleh sebuah kelompok komunitas atau masyarakat. Masyarakat adat atau komunitas adat adalah kelompok masyarakat pendukung adat-istiadat yang berlaku di dalam suatu kelompok masyarakat itu. Penulis lainnya mengatakan bahwa masyarakat adat adalah sebuah unit sosial dimana setiap individu menerima otoritas unit sosial tersebut serta tunduk kepada aturan-aturan yang berlaku. Karena aturan-aturan tersebut terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan yaitu praktek-praktek hidup yang dilakukan berulang-ulang maka masyarakat lebih akrab dengannya.

Masing-masing suku bangsa atau sub suku bangsa memiliki sistem nilai budaya yang berbeda satu dengan lainnya. Untuk mengatur tatanan masyarakat adat, pada masing-masing masyarakat terdapat lembaga-lembaga dan pranata-pranata yang mengatur dan mengendalikan perilaku anggota masyarakat atau komunitas adat. Kedua hal ini (lembaga dan pranata) acapkali tumpang tindih pengertiannya. Lembaga atau institusi kadang-kadang diartikan pula sebagai pranata. Lembaga dalam tulisan ini diartikan sebagai sebuah organisasi yang mengatur berbagai kebutuhan masyarakat. Dalam masyarakat adat misalnya terdapat lembaga atau dewan adat yang terdiri dari para tetua atau ahli adat yang berfungsi untuk menjelaskan berbagai hal tentang adat dan memutuskan atau menyelesaikan sengketa adat. Hal ini penting karena banyak sekali norma dan aturan adat yang tidak lagi diketahui oleh anggota masyarakat. Selain itu, terdapat pula peradilan adat yang berfunggi memutuskan berbagai perkara mengenai pelanggaran adat. Pranata adat yang disebut pula sebagai "lembaga" adat atau institusi adat diartikan sebagai sistem antar-hubungan, norma-norma, aturan-aturan, dan peranan-peranan dari para pelaku yang menyajikan seperangkat pedoman-pedoman, wadah-wadah untuk bertindak sesuai corak pranata adat tersebut dan sesuai kebutuhan yang dipenuhi oleh masyarakat yang bersangkutan. Di dalam paranata sosial (adat) tersebut terdapat nilai-nilai budaya yang berfungsi memberikan arahan yang baik atau tidak baik, yang beradab atau tidak beradab dan sebagainya (Suparlan : 1997). Olen karena itu fungsinya merupakan mekanisme kontrol bagi tindakan anggota masyarakat. Pada masyarakat adat di Maluku terdapat berbagai lembaga dan pranata yang mengatur berbagai kebutuhan masyarakat adat antara lain:
· Pranata adat yang mengatur hubungan kekerabatan
· Pranata adat yang mengatur hubungan kejasama dan tolong menolong
· Pranata adat yang mengatur pemeliharaan lingkungan
· Pranata adat yang mengatur kepemilikan tanah
· Pranata adat yang mengatur pemerintahan
· Dan lain-lain.
 

       
4.       AGAMA NEGERI TIHULALE
           Yang dimaksud dengan Agama Negeri Tihulale  di sini penulis maksudkan adalah agama Nenek Moyang (orang tua-tua dolo-dolo) di abad 16 sebelum datangnya penginjilan dan Kekristenan ke Negeri Tihulale.  Sebelum para pedagang Potugis dan Penjajah Belanda masuk ke bumi Maluku Nenek Moyang Negeri Tihulale Amalessy telah memiliki agama sendiri di saat itu yang di sebut dengan nama KAKEHANG dengan tokoh pemimpinnya di sebut MAUWENG sebagi pemuka agama Kakehang ini Mauweng sangatlah di hormati dan di segani bahkan segalah pertimbangan Raja harus meminta dulu nasehat dari Mauweng. Dalam kepercayaan ini mereka percaya kepada Upuru loterumi,  dan roh-roh nenek moyang.

1.    Upuru Loterumi, adalah  sesembahan yang di yakini tuhan alam semesta (Tuhan Yang Maha Esa) yang memberikan Lematai  adalah Matahari yang memberi cahaya dan menerangi, Huran, adalah Bulan yang menerangi pada waktu malam , Ume, adalah Bumi yang di dalamnya terdapat Tanah dan Air yang memberikan makan bagi mereka.
2.    Roh-roh Nenek Moyang, adalah roh-roh yang di percaya dari roh keluarga yang telah lama tiada namun masih terus menjaga dan melindungi, biasa di sebut Tete-Nene-Moyang, sampai saat inipun kepercayaan itu masih tetap berakar di dalam masyarakat Negeri Tihulale bahkan adalah istilah yang mendarah daging : nomor 1 Tuhan, Nomor 2 Tete Nene Moyang.

             Kepercayaan kepada sembahan-sembahan dan roh-roh nenek moyang inilah yang membuat mereka takut melakukan hal-hal yang diyakini dapat membuat murka para sesembahan dan para roh nenek moyang marah dan berakibat negeri mendapat malapetaka baik sakit penyakit maupun kematian. Sebagi tanda hormat dan terima kasih mereka pada sesambahan yang di yakini, mereka biasanya melakukan ritual-ritual untuk menyenangkan yang di yakininya sebagai tuhan. Altar-altar penyembahan biasanya terbuat dari batu bertungku tiga ataupun empat dengan satu batur datar berukuran besar sebagai mejanya. Saat ini di sebut dengan dolmen. Bukti dari adanya agama Kakehang ini masih ada di negeri Tihulale dan masih berpengaru juga dalam kehidupan masyarakat di Negeri Tihulale sampai saat ini. Jadi sebelum datangnya Portugis dan Belanda, Masyarakat Negeri Tihulale  telah percaya kepada Tuhan Yang Maka Esa, dengan keyakinan bahwa Matahari, Bulan dan Bumi adalah pemberian Tuhan Yang Maha Esa yang harus di hormati. Begitupun mereka percaya akan alam lain dengan adanya roh-roh nenek-moyang yang memiliki kehidupan sendiri, menjaga dan melindungi mereka bahkan dapat memberikan malapetaka. Mereka percaya akan adanya kelahiran dan kematian, hidup dan mati dengan istilah Heka-Leka. Dimana suatu saat manusia akan mati dan ada kehidupan yang baru melalui kelahiran.
                                  
                                Dolmen sebagai bukti keberadaan agama Kakehang 

            Tahun  1511 portugis masuk ketanah Maluku dengan Tujuan ekspansi meliputi tiga hal: "GOD, GOLD, GLORY" 
1.      God" artinya mereka pergi ke luar ingin membawa dan menyiarkan agama Katolik kepada daerah yang didudukinya atau tempat di mana mereka berpijak. Paus mendorong raja untuk meluaskan kerajaan dengan janji bahwa di mana daerah diduduki, maka itu menjadi hak mereka. Dengan demikian raja mengutus dan membiayai misi Katolik. Ini disebut dengan sistem "padroado" yaitu raja adalah tuan dan pelindung gereja.
2.     Gold" artinya mereka pergi ke luar mencari kekayaan dengan berdagang yaitu alasan ekonomi
3.    Glory" adalah kemuliaan bangsa Portugis dan kerajaannya dari segi politis dengan melemahkan kekuatan Turki dan bangsa-bangsa yang pernah menjajahnya.


  Adalah Fransiskus Xaverius (1506), seorang Spanyol yang menjadi murid pertama Ignatius de Loyola. Datang ke Asia karena mengganti teman yang sakit tahun 1542, pertama kali merintis penginjilan di saparua sampai ke seram sekitar tahun 1546-47. Namun pelayanan ini kurang berhasil di Negeri Tihulale disebabkan yang di utus ke Negeri Tihulale saat itu adalah jurubahasa yang memang tidak dapat di terima oleh Raja dan Masyarakat Negeri Tihulale saat itu. Pengaru Mauweng dengan keyakinan terhadap agama Kakehang yang sudah ada lebih kuat dan di rasa masih lebih baik dari ajaran yang di bawakan oleh jurubahasa tersebut.  Kemampuan Mauweng yang dapat berkuminukasih dengan roh-roh nenek-moyang dan mengusir balah pada saat itu dan kehidupan masyarakat yang masih takut akan roh-roh nenek-moyang membuat misi Fransiskus Xaverius dengan jurubahasanya di Negeri Tihulale tidak berhasil. Cerita-cerita ajaib yang melegendakan Fransiskus Xaverius seperti doa minta hujan di Saparua, salib yang hilang ditemukan dan dikembalikan oleh kepiting besar (Van den End, 51) pun tidak dapat mempengaruhi masyarakat Negeri Tihulale  saat itu untuk menerima  ajaran yang di bawakan oleh jurubahasa yang di utus Fransiskus Xaverius.  Sampai pada Tahun 1570 di sertai dengan kekuasaan Portugis berakhir,  mempengaruhi pekerjaan misi Katolik  pulau seram dan masyarakat Negeri Tihulale  masih tetap hidup dan keyakinannya terhadap agama Kakehang yang di yakininya.  
                     
   Sampai pada tahun 1605 VOC (organisasi dagang Belanda) Masuk ke Tanah Maluku ditandai dengan  berhasil merebut benteng Portugis yang ada di Ambon dan Banda. Darisinilah awal mula masyarakat Negeri Tihulale  beralih dari keyakinannya yang lama ke keyakinannya yang baru. Misi VOC adalah perdagangan dan mereka menggantikan Portugis dalam menguasai perdagangan rempah-rempah. Belanda memakai kekuatan militer dalam menguasai perdagangan rempah-rempah sehingga mengalahkan Banda, Hitu, Seram Barat. Pusat produksi rempah-rempah dipusatkan di Ambon-Lease, dan Banda. Sedangkan di daerah lain dihancurkan oleh VOC (sistem hongi yaitu penghancuran pohon oleh VOC). VOC juga meminta penduduk yang beragama Katolik pindah ke agama Protestan. Jadi penduduk yang beragama Katolik pada zaman Portugis menjadi Protestan pada zaman Belanda. Prinsipnya "yang mempunyai negara, menentukan agama". VOC belum memiliki tenaga pendeta/misi yang melayani orang Kristen di sana, tetapi VOC menggunakan "penghibur orang sakit." Untuk menjalankan misi dan pelayanannya. Kekurangan pengatahuan Mauweng tentang ilmu pengobatan dan penyakit mengakibatkan pengaruh Penghibur Orang Sakit sangatlah besar terhadap perubahan dan pengalihan keyakinan ini. Angka kematian yang di sebabkan oleh penyakin yang dapat di sembuhkan bisa di perkecil. Masyarakat Negeri Tihulalepun mulai menerima dengan alasan mendatangkan kebaikan bagi mereka.  Tahun 1607 kapal-kapal Belanda membawa mantri kesehatan kesaparua dan di distibusikan ke pulau seram yang kemudian membuka sekolah dengan pengajaran agama dan pelajaran membaca dan berhitung.

Kehidupan rohani di Negeri Tihulale  saat itu tidak terlalu mendapat perhatian dan hanya dilayani oleh guru-guru jemaat sekaligus berperan sebagi guru sekolah namun masyarakat mulai menerimanya tetapi tetap percaya pada agama dan keyakinan yang lama. 
Kekalahan Portugis kepada Belanda dengan direbutnya benteng Nossa Sendhora da Anunciada dan diganti dengan nama dgn Victoria tgl 23 pebruari 1605.Dan tgl 27 pebruari 1605 diadakan ibadah kristen protestan pertama di benteng.Misi Cius rgio eivs religio di jalankan agama raja agama rakyat.Misi pengkristenan terhadap negeri negeri yg beragama suku dilakukan terutama ke pulau Seram.Dan pada tanggal 11 juli 1696 pendeta D.de Mei datang ke negeri Tihulale untuk membabtis mereka.Setelah dibabtis di berikan seoran guru jamaat tuan ANDRIES CASTANJA untuk berhotba dan mengajar anak anak sekolah. Inti pelajaran yg didapat adalah 1.Berdoa sebelum masuk dan plng sekolah serta bernyanyi.2.Menghafal doa bapa kami dan pengakuan iman. 3.Membaca dan menulis. Menurut laporan dari pendeta Francois Valentyn nov 1708 sampai pebruari 1709 keadaan jamaat dan pendidikan di jamaat Tihulale sbb: Guru jamaat Andries Castanja.Pembantu 7 orang.Angota dewasa 79 orang.Yg bersekolah 38 orang.Diluar sekolah 28 orang.Jumlah seluruhnya 153 orang dalam jamaat .Yg diluar sekolah itu mereka telah selesai dan dinilai mampu dlm pendidikan.bahasa yg dipakai adalah bahasa melayu ambon. Dalam buku Joseph Kam rasul Maluku yg datan ke maluku 15 maret 1815 belia juga menulis tentang jamaat Tihulalae .Rumahkai dam Kamarian adalah jamaat tertua di Seram Barat. 
Sumber Bapak Tonny Tuarissa

Meski di tahun 1612 datang pendeta pertama tiba di Ambon, dan sejak itu terus didatangkan pendeta-pendeta untuk Ambon. {Namun mulai tahun-tahun 1790-an sampai sekitar tahun 1820, Ambon dan kepulauwan di Maluku berada dalam keadaan yang tidak menentu, Dua kali orang-orang Inggreris menggantikan orang-orang Belanda sebagai penguasa (1796-1802, 1810-1817). Mereka meringankan beban yang harus di tanggung penduduk akibat sisitim VOC. Ketika orang-orang Belanda kembali (1817), mereka langsung mulai lagi membebankan bermacam-macam kewajiban kepada rakyat, dan hal itu turut menyebabkan pemberontakan yang hebat di Saparua. Tahun-tahun 1820-an merupakan periode yang tenang, tetapi mulai dari 1835 pulau-pulau Maluku Tengah digoncangkan oleh gempa bumi dan wabah. Dalam pada itu kehidupan orang-orang Maluku tetap berjalan menurut corak yang sudah berlaku selama masa VOC. Mereka tidak mengembangkan kegiatan ekonomi sendiri selain untuk memperoleh keperluan hidup yang paling terutama. Pulau-pulau Maluku miskin, dan banyak orang yang merantau menjadi pegawai atau prajurit untuk pemerintah Belanda. Di bidang politis, orang-orang Maluku tetap berada di bawah perwalian orang-orang Belanda. Segala sesuatu diatur dari atas, dan mereka terpaksa menerima saja apa yang diputuskan mengenai mereka.(End, Dr. Th. van den. 2001. Ragi Carita 1. PT BPK Gunung Mulia, Jakarta. Halaman 158 – 168.)}. Negeri Tihulale tidak di layani oleh pendeta-pendeta tersebut bahkan di tahun 1815 telah ada Josep Kam juga.  Baru pada tahun 1900-1935 Negeri Tihulale mendapatkan layanan pendeta dan sekaligus membangun Gedung Gereja yang di namakan BETH-EDEN pada tgl 7 Juni 1935 dan diresmikan pada tgl 15 September 1935  sebagi tanda masyarakat Negeri Tihulale seluruhnya  telah menerima agama Kristen Protestan dan berpengaru besar pada tatacara kehidupan, budaya dan adat istiadat di Negeri Tihulale . { Pendeta-pendeta pada zaman VOC telah memberantas unsur-unsur agama kakehang (agama suku) ini, dan kalau kedapatan, orang menerima hukuman berat, sampai diancam hukuman mati. Anehnya, pendeta-pendeta itu kurang menyadari pengaruh berfikir agama kakehang (agama suku) yang tidak langsung itu dalam perwujudan agama Kristen seperti yang terdapat di Maluku (atau di Belanda sendiri). Akibatnya, usaha-usaha ini tidak berhasil mencabut apa yang mereka sebut kekafiran di tengah jemaat-jemaat  http://sinodegpm.org/?p=984}.

 Gedung Gereja Beth-Eden

         5    BUDAYA NEGERI TIHULALE
       Dari pengertian istilah budaya di butir 2 menurut Sir Edward B Taylor bahwa budaya adalah  keseluruhan kompleks yang terbentuk di dalam sejarah dan diteruskan dari angkatan ke angkatan melalui tradisi yang mencakup organisasi sosial, ekonomi, agama, kepercayaan, kebiasaan, hukum, seni dan ilmu. Jadi budaya mempunyai lingkup  pengertian yang luas dimana di dalamnya terdapat agama dan kemudian adat . begitupun dengan Ensiklopedia Bebas mengerti pengertian yang sama.
     Di masa lampau Masyarakat Negeri Tihulale  hidup dalam koloni-koloni dan belum berbentuk sebuah Negeri.  Pola kehidupannya masih sangat primitif dan bergantung kepada alam dan masih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Sampai pada abab 16 mereka mulai membentuk koloni besar dan menetap di daerah-daerah yang dianggap sebagai kekuasannya. Sampai pada saat pedagang Arab, Portugis dan Belanda Masuk Ketanah Maluku barulah mereka mengenal Negeri Dan Raja dan budayanyapun di pengaruhi oleh budaya Arab, Portugis dan Belanda sampai pada bahasanya.
     Dalam kehidupan Masyarakat Negeri Tihulale dikenal benyak sekali kebudayaan namun penulis hanya mengangkat budaya tutur, budaya masohi,  dan makan patita mungkin di lain kesempatan penulis akang mengangkat budaya yang lain.
1.    Tutur.
Budaya Tutur adalah budaya cerita turun temurun dari generasi-ke generasi tentang sesuatu peristiwa yang terjadi di masa lampau. Di masa lalu Masyarakat Negeri Tihulale  tidak pandai dalam menulis dan membaca, sehingga segalah peristiwa yang terjadi masa itu selalu di sampaikan kegenerasi berikutnya dengan cara menceritakan (tutur). Sehingga terkadang ketika kita membutuhkan bukti tertulis tentang sebuah cerita sejarah Masyarakan Negeri Tihulale  di masa lampau kita tak akan perna menemukannya.  Budaya tutur ini tetap masih terpelihara sampai saat ini. 
2.     Masohi.
Budaya Masohi adalah budaya gotong royong yang di lakukan untuk kegiatan-kegiatan yang ada didalam masyarakan Negeri Tihulale  seperti, membuka lahan baru dan bercocok tanam, memperbaiki rumah, dll. Budaya ini terus terpelihara sampai saat ini dan masyarakat Negeri Tihulale menjadikannya sebagai wadah silaturahmi santara sesama anak negeri.
 Masohi Membersikan Lokasi Pembangunan Gedung Gereja

3.   Makan Patita 
       Makan patita adala budaya makan bersama semua anggota masyarakat dengan menggunakan meja lesa yang terdiri dari daun kelapa dan daung pisang. biasanya budaya ini dilakukan setelah ada kegiatan besar dinegeri, atau keberhasilan panen dan lain sebaginya.
Makan Patita

5.       ADAT NEGERI TIHULALE .
               
                Seperti Negeri-Negeri di Seram dan Maluku Tengah pada umumnya Negeri Tihulale memiliki adat istiadat yang sama, dan banyak di pengaruhi baik sejak jaman penjajahan sampai pada jaman kemerdekaan saat ini. 


Dalam Materi  J.W. AJAWAILA (Universitas Pattimura) pada Musyawara besar Laupati Maluku yang di selenggarakan  tanggal 29 sampai 31 Oktober 2013 di Ambon.  Menyatkan bahwa : Dalam perjalanan sejarah Negara kita, terdapat banyak sekali kebijakan pemerintah yang mengurangi peran lembaga dan pranata adat sebagai pengendali kehidupan masyarakat. Para pendukung masyarakat adat percaya bahwa produk leluhur yang selama ini digunakan dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka dan menjaga serta memelihara ketentraman anggotanya. Masyarakat adat juga percaya bahwa sumberdaya agraria, misalnya tanah, hutan dan wilayah pesisir serta wilayah laut yang terbatas yang selama ini dimiliki merupakan asset masyarakat adat yang sangat berharga secara ekonomis bagi kesejahteraan anggota masyarakat/komunitas. Dalam kondisi seperti ini akan timbul pertanyaan: Bagaimana eksistensi masyarakat adat dengan berbagai pranata lokal tradisionalnya yang dianggap mampu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat ketika berhadapan dengan Negara sebagai sebuah realitas dengan kekuasaan yang sangat besar dan dominan. Sejauh mana lembaga-­lemboga dan pranata-pranata adat dapat menyesuaikan diri dengan pranata­-pranata nasional milik Negara.

Dalam sejarah perjalanan masyarakat adat, kebijakan-kebijakan negara yang sangat memukut kehidupan masyarakat adat adalah penyeragaman sistem pemerintahan desa di seluruh Indonesia. Penyeragaman ini dengan sendirinya telah mengaburkan identitas komunitas/masyarakat adat termasuk di Negeri Tihulale sendiri. Struktur pemerintahan desa yang diintroduksi melalui penyeragaman sesuai dengan undang-undang tidak lagi memperlihatkan sebuah wajah pemerintahan adat yang oleh masyarakat adat dianggap paling tepat untuk menata masyarakat adat. Lembaga-lembaga asing dalam kacamata masyarakat adat di pedesaan, seperti, dusun, RT/RW dan lainnya harus dibentuk tanpa tawar menawar. Pada beberapa daerah tertentu posisi masyarakat adat dapat diwakili oleh sekelompok tokoh masyarakat yang berfungsi sebagai dewan adat, akan tetapi perannya tidak signifikan dibandingkan dengan pemerintahan adat yang memiliki berbagai unsur pemerintahan yang dapat melayani kebutuhan masyarakat. Akibatnya, pemerintahan desa di Indonesia termasuk di Tihulale dan Maluku pada umumnya terlihat berwajah ganda yaitu di satu pihak berorientasi kepada pemerintahan nasional dan di pihak lain berorientasi kepada adat. Di Maluku Tengah dan Seram bagian Barat,  pada desa-desa tertentu terdapat Lembaga Musyawarah Desa (LMD) dan Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) sebagai produk undang-undang, terdapat pula lembaga saniri sebagai lembaga perwakilan masyarakat adat yang berfungsi mengurus hal-hal yang menyangkut kepentingan adat. Dengan demikian negeri dan desa menjadi satu yang batas-­batasnya tidak jelas. Kekaburan ini juga terjadi karena kepala pemerintahan negeri (masyarakat adat) yang seyogianya dipilih dari kelompok masyarakat yang berhak menempati jabatan itu (bangsa raja), dalam realitasnya menjadi kepala pemerintahan desa yang dipilih dari anggota masyarakat yang telah memenuhi syarat sesuai ketentuan undang-undang. Kepala pemerintahan negeri dan kepala desa adalah dua hal yang berbeda. Dualisme pemerintahan ini telah membingungkan masyarakat dan tentunya berdampak terhadap partisipasi anggota masyarakat untuk membangun desanya. Undang-undang tentang pemerintahan daerah yang memberikan peluang terbentuknya pemerintahan adat sesuai asal usul dalam implementasinya belum dapat memenuhi kepentingan dan kebutuhan masyarakatnya.

Pranata lokal yang oleh masyarakat adat telah akrab dengannya karena dibertakukan dari generasi ke generasi dan dipercayai dapat membawa kesejahteraan serta ketentraman, harus tunduk ketika berhadapan dengan pranata nasional yang memiliki kekuatan besar dan dominan. Akibatnya pranata adat yang bersumber kepada adat dan dikendalikan oleh pemerintah negeri (adat) menjadi lemah dan tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.

Selain pemerintahan adat yang mengalami degradasi terdapat pula kebijakan negara yang mengurangi peran masyarakat adat dalam kepemilikan hak-hak adat mereka. Kepemilikan hak-hak adat ini meliputi hak kepemilikan atas tanah adat, hutan laut dan pesisir. Dalam pandangan masyarakat adat/tradisional, alam dan manusia tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Oleh karenanya mengapa masyarakat adat memerlukan pemeliharaan alam dan lingkungan dengan sebaik-baiknya. Masyarakat adat dengan kearifan lokalnya mengetahui bahwa alam dan lingkungan harus dimaknai sebagai lumbung yang dapat menyediakan keperluan hidup sehari-hari. Hutan dan alam sekitarnya adalah segala-galaya. Di situ mereka hidup, mati, dan dikuburkan, beribadah, bekerja untuk kehidupan, membuat mitos-mitos, membangun keluarga dan menyusun kekerabatan. Oleh karena itu alam dan lingkungan seyogianya berada dibawah kendali masyarakat adat. Pandangan inilah yang diwariskan oleh nenek moyang. (Bandingkanlah dengan peran Kewang dalam pelestrian lingkungan). Realitas memperlihatkan bahwa seringkali terjadi konflik kepentingan antara negara dan masyarakat adat dan antara masyarakat adat dengan pemangku kepentingan lainnya (Kasus-kasus yang terjadi dalam hubungannya dengan kepemilikan hutan/tanah dimana terjadi konflik antara pengusaha hutan dan masyarakat adat sebagai pemilik hutan/tanah adat).

Berbagai kebijakan telah ditempuh akan tetapi kelihatannya kebijakan yang dibuat belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat adat.
Selain hal-hal yang disebutkan diatas, perubahan nilai yang terjadi di dalam masyarakat juga telah melemahkan peran pranata adat/ tradisional. Pandangan yang berbeda di antara generasi tua dan muda terhadap nilai tradisional dan modern juga telah menurunkan pandangan generasi muda terhadap adat sebagai budaya lakal. Budaya lokal diangap telah kuno dan tidak memberi harapan bagi masa depan dibandingkan dengan budaya global. Padahal diketahui bahwa budaya global yang menintroduksi nilai-nilai modern sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Hal ini dapat dilihat pada fenomena sosial budaya antara lain:

Kerusakan lingkungan fisik sebagai akibat dari eksploitasi sumberdaya alam secara besar-besaran. Masyarakat yang semula bergantung dari sumberdaya alam kemudian menjadi miskin akibat eksploitasi sumberdaya alam secara besar-besaran.

Hedonisme dan konsumerisme melanda masyarakat. Tejadi kesenjangan mereka yang punya dan tidak punya. Hedonisme dan konsumerisme juga dapat memberikan peluang terjadinya korupsi. Nilai-nilai individual dapat berkembang dan mengeser nilai­-nilai kolektivisme. Nilai-nilai individual kemudian berdampak terhadap keterasingan sosial dan individu. Hubungan-hubungon sosial menjadi merenggang.

Kompetisi di satu pihak dapat mendorong terjadinya peningkatan kualitas akan tetapi di lain pihak dapat menghilangkan solidaritas.

Pembangunan ekonomi menjadi tujuan untuk mengejar pertumbuhan berakibat kurang diperhatikannya pembangunan sosial yang kemudian berdampak terhadap menurunnya peran pranata sosial budaya yang menggalang partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

Reformasi telah membuka babakan baru untuk menata kembali kehidupan masyarakat adat sebagai bahagian integral dari bangsa Indonesia. Dengan dikeluarkannya undang-undang tentang otonomi daerah yang memberi peluang kepada terbentuknya pemerintahan desa yang sesuai dengan hak asal usulnya tentu telah melegakan masyarakat adat. Namun bagaimana implementasinya tentu perlu dipertanyakan. Berbagai hak kepemilikan tentu masih terus diperjuangkan oleh berbagai kelompok yang merasa peduli terhadap kepentingan masyarakat adat. Hak­-hak yang diperlukan penegasannya antara lain tentang hak ulayat yang terkait dengan eksistensi hidup suatu masyarakat dan sumberdaya alam yang berada pada wilayah masyarakat adat. Walaupun demikian tentu sudah lebih baik apabila dibandingkan dengan masa yang lampau sebelum terjadinya reformasi. Reformasi tentunya memiliki juga kelemahan karena apabila tidak disikapi secara baik reformasi akan menjadi reformasi kebablasan yang menafikan orang lain untuk memerintah suatu daerah misalnya dalam konsep "putra daerah".

Menata kembali sejumlah pranata yang sudah rusak, paling tidak pranata yang sudah lemah tidak semudah membalik telapak Tangan, karena sangat terkait dengan kelembagaan adat yaitu pemerintah adat atau pemerintah negeri. Kita tentu tidak bisa bicara tentang pela tanpa bicara tentang keterlibatan pemerintah negeri. Berbagai pranata tentu terkait pula dengan ritual yang melandasi implementasi fungsi pranata tersebut yang melibatkan masyarakat adat. Hal yang paling sulit bagi kita juga adalah bagaimana meyakinkan generasi muda tentang pranata lokal tradisional yang terlanjur dikatakan kuno dan tidak membawa harapan bagi masa depan, dan kita juga tidak mudah meyakinkan generasi muda bahwa apabila tidak diimplementasikan pranata adat akan pupus identitas kesukubangsaan, sebagai arang Ambon, orang Kei, orang Buru, orang Tanimbar, orang Selatan Daya dalam ruang lingkup identitas sebagai orang Indonesia.

Kalau dikaji secara mendalam berbagai paranata lokal kita tidak kala bersaing dengan paranata yang ada di darerah lain juga pranata yang dianggap sebagai pranata nasional. Apa bedanya kewang apabila dibandingkan dengan jagawana yang berfungsi untuk menjaga hutan lindung. Fungsi jagawana yang digaji oleh pemerintah hanya terfokus pada hutan lindung akan tetapi kewang jauh lebih besar peranannya, bukan saja menjaga dan melindungi hutan, akan tetapi juga laut, sungai, darat dan pesisir.

Apa pula bedanya maano dengan dengan production sharing, yang terakhir ini dikenal dengan konsep bagi hasil. Maano dalam masyarakat tradisional di Negeri Tihulale dan Maluku Tengah pada umumnya dilakukan dalam persetujuan bagi hasil ketika meramu sagu, memetik cengkih atau kelapa. Selain itu, apa pula bedanya antara konsorsium, sebuah konsep modern dengan badati yang dianggap kuno. Badati adalah sebuah konsep masyarakat tradisional dalam aktifltas memberikan sumbangan dalam hubungan kerjasama untuk tujuan tertentu dan yang terakhir adalah sasi sebagai upaya masyarakat untuk melindungi lingkungannya sebagai sumberdaya yang dapat menghidupi masyarakat pendukungnya. Sasi diartikan sebagai larangan untuk memetik hasil kebun atau laut sebelum masa panen. Dalam hal sasi apa bedanya dengan konsep pembangunan secara berkelanjutan, sustainable development. Tentu banyak lagi pranata-pranata adat yang lain yang merupakan kearifan lokal dapat dibicarakan dalam tulisan ini.

Dalam hubungan itulah maka perlu dikategorikan berbagai lembaga dan pranata adat yang mendukung keberadaan suatu masyarakat adat yaitu pranata yang dapat menggambarkan identitas komunitas, pranata yang mendukung kesejahteraan masyarakat, pranata yang dapat mengembangkan hubungan-hubungan sosial dan mengembangkan perdamaian dan pranata-pranata lainnya.

Oleh karena itu maka diperlukan reposisi dan penafsiran kembali pranata adat. Reposisi dilakukan melalui kemauan baik pemerintah melalui peraturan daerah yang dibuat secara besama-sama. Penafsiran kembali dimaksudkan agar pranata adat tersebut dapat menembusi tantangan jaman sehingga tidak dianggap sebagai pranata yang sudah usang produk masa lampau.



pranata adat di negeri Tihulale yang telah terpengaru pranata-pranata lainnya antaralain :

 
1.    Adat Sasi
     Adat sasi di lakukan untuk menjaga dan dan melestarikan alam dan hasilnya. Prosesi adat biasanya di lakukan untuk peryode bulan tertentu dan akan di buka saat tanaman atau hasil alam tersebut layak untuk di ambil hasilnya.  Dulu sasi biasanya di lakukan dengan ritual-ritual tertentu dan setiap tempat yang di sasi di berikan tanda dengan ikat kain mereh, dan selalu di kontrol oleh Kewang (polisi adat negeri). Setiap pelanggaran hukum adat sasi ini di berikan sangsi berupa pembayaran denda kepada negeri ataupun mengelilingi negeri dan berteriak untuk menyampaikan kepada warga agartidak meniru perbuatan tersebut. Jenis sasi yang di berlakukan di Negeri Tihulale sendiri terdiri dari sasi darat dan laut serta sasi Negeri dan Petuanan.
      seiring perkembangannya sasi ini kemudian masuk dalam Gereja, dan tidak lagi berdasarkan bulan-bulan tertentu tetapi berdasrkan permintaan indipidu masyarakat yang ingin hasil tanamannya di sasi serta di berikan tanda plang sasi dan tidak ada yang mengawalnya dan tidak ada penerapan sangsi untuk pelanggaran yang di lakukan.. Kewangpun tidak lagi dipungsikan sebagaimana mestinya.





2.    Adat Perkawinan
        Sama seperti Negeri-Negeri lain di Maluku, Negeri Tihulale tidak mengenal perkawinan sesama marga. Bahkan tidak bisa sling mengawini antara marga karena wari-waa ataupun ada hubunga ikatan persaudaraan . Selain itu juga  tidak memperkenankan perkawinan berbeda agama, meskipun Masyarakat Negeri Tihulale itu sendiri memiliki kekerabatan dengan umat yang lain (Islam) sangatlah rukun satu dengan yang lainnya. Dalam adat perkewinan di Negeri Tihulale di kenal tiga 3 (tiga) perkawinan yaitu:
 
1.   Kawin Minta yaitu perkawinan dengan mengikuti semua prosesi sebagimana layaknya perkawinan, Perkawinan seperti ini sama seperti pada perkawinan dari adat Batak, yang dimana harus membayarkan sebuah mahar kepada pengantin wanita. Tetapi bagi warga Maluku perkawinan seperti ini jarang diminati karena diharuskan memiliki biaya yang besar untuk maharnya.  Namun terkadang poses pembayaran mayar ini bisa juga di tunda bahkan seringkali ketika tidak mampu membayar maka salah satu anaknya harus mengikuti marga sang istri dengan istila arken.
2.       Kawin Lari yaitu perkawinan yang di lakukan dengan cara membawah lari wanita dan menikah tanpa di restui orang tua, Perkawinan jenis ini memang banyak dihindari dan sangat tidak diinginkan karena memang dipandang kurang baik. Tetapi bagi para pemuda di Maluku perkawinan ini sangatlah wajar bagi mereka yang menghidari kekecewaan dikarenakan mereka ditolak atau mengindari malu karena perkawinannya ditolak oleh keluarga dari sang wanita.  Biasanya setelah semuanya membaik pengantin ini meminta pengampunan dari orang tuanya dan biasanya di lakukan pada saat momen-momen tertentu seperti natal dan tahun baru.
3.    Kawin Manua  yaitu perkawinan dimana-mana setelah pernikahan, pasangan wanitanya harus tinggal dengan keluarga pengantin pria. Tetapi pada sistem kawin ini justru sebaliknya, pengantin prialah yang harus tinggal dengan keluarga pengantin si wanita setelah mereka menikah

Setiap mempelai Pria harus dapat melakukan adat masuk mata rumah, selama belum melakukan adat ini maka simempelai wanita belum sah masuk dalam matarumah pria..





Sanksi Hukum Adat yang berlaku di Negeri Tihulale
atas pelanggaran yang di lakukan.

Kamis, 13 Februari 2014

Pesona dan Keindahan Negeri Tihulale (Amalessy)

       


Mungkin bagi banyak orang Negeri Tihulale tidaklah di kenal, bakan ketika saya bercerita tentang Negeri ini kepada teman-teman di lingkungan saya bekerja dengan spontan mereka akan mengatkan Tihulale itu apa, di mana letaknya, dengan sabar sayapun menjelaskan kepada mereka, bahwa Tihulale itu adalah sebuh Negeri (setara Desa di pulau jawa) namun sistim kepemerintahannya berbeda. Negeri ini terletak di pulau Seram, Maluku, tepatnya saat ini berada di wilayah kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Maluku. Indonesia.

Sambil bercerita bagi mereka sayapun  memperlihatkan beberapa foto tentang Negeri  saya ini kepada mereka , mulai dari pantainya, hutannya, suasana Negerinya, air terjunnya, adat istiadat dan budayanya. plaura dan paunanya, semuanya saya perlihatkan tentang Negeri saya ini, ketika melihatnya semuanya terpesona dan memuji saya, "wah negerimu indah sekali" masih asli lautnya jerni hutan yang rinbun karne tanahnya yang subur, bahkan ada yang menawarkan bisnis dengan berkata " Mon(sapaan saya di kantor), kalau di jadikan bisnis Wisata Pesona Liburan di Negerimu sangatlah menjanjikan, semuanya masih alami tinggal di rampikan saja, pasti menguntukan bagi negerimu. sejenak saya terdiam dan berpikir benar juga apa yang di katakan teman saya ini.



Dengan vegetasi yang masih asli, Negeri Tihulale sangat menjanjikan dengan menawarkan berbagai keindahan yang sudah pasti dapat di nikmati oleh semua orang apalagi mereka yang suka akan wisata. lautnya yang jerni berhiaskan batu karang yang berwarna-warni membuat laut Negeri ku ini sangat baik untuk snokeling, dan bagi pecinta snokling pasti akan ketagian dengan keindahan bawah lautnya.

Dari atas kiri ke kanan : Daerah rawah hutan bakau, bakau teppi pantai, air terjun tane, rimbunnya hutan tanpak dari jempatan waihira

Negeri Tihulale
Foto : Tonko Blokzijl


Selain anda dapat melihat indahnya pemandangan, anda juga akan melihat mangrov, hutan dan air terjun yang di diami oleh berbagai jenis spesis hewan liar endemis asli Negeri ini. kicawan burung dan aktifitas Negeri (pedesaan) dapat membuat hati annda tenang apalagi jika anda seorang yang sibuk dalam pekerjaan anda akan merasa tenang. hal-hal inilah yang membuat Negeriku ini sangatlah menarik. nah berikut ini saya akan memberikan beberapa foto tentang Negeriku ini :
''''''''''''''

Panorama matahari terbit, di lihat dari TANJUNG LAHENA
''Foto : Mario Matital




Air Terjun Tane
Foto : Salmon Atapary
Pesona Air Terjun Tane
Foto : Mice Poseratu


Aktifitas Nelayan
Foto : Brifick Mawene




Aktifitas dan budaya Masyarakat di Negeri Tihulale

suatu saat saya akan kembali ke Negeriku ini dan menikmati semua yang Tuhan berikan dan akan memberikan pikiran dan mimpiku untuk membangun Negeriku seperti yang sudah di lakukan oleh saudara-saudaraku sesama anak negeri yang sudah lebih dulu.



 Kiranya Tuhan Menolong Saya Mewujutkan Mimpi itu.



Senin, 25 November 2013

Ayoo Bergerak dan Tetap Semangat Dalam Yesus Tuhan.!

Ketika kita mulai belajar melangkah dengan iman dijamin tidak akan ada lagi yang namanya kekuatiran.
Sebagai orang percaya kita sering mendengar firman "jangan kwatir" tapi kenyataannya banyak orang yang katanya percaya pada Tuhan justru merasa kwatir, bukan saja jemaat dalam sebuah persekutuan Gereja mengalaminya bahkan Hamba Tuhan atau Pendeta sekalipun juga menunjukan hal kekwatirannya berbeda dengan apa yang di sampaikannya di mimbar pada jemaat.
pagi ini saat saya mendengar cerita dari rekan saya di Ambon bahwa tadi malam telah terjadi gelombang pengungsian dari Gudang arang akibat takut kena badai sunami, saya merasa bahwa masih banyak orang yang lebih mengandalkan ketakutan dan kemanusiaannya ketimbang percaya pada Tuhan yang maha kuasa. ketakutan dan kekwatiran itulah yang membuat orang lupa akan kemahakuasaan Tuhan, ternyata setelah di selidiki hanya sebuah serine kapal perintis dari Maluku Tenggara yang ingin berlabu di pelabuhan gudang arang. mendengar serine tersebut tanpa menyelidiki semua orang mulai panik dan berlarian menyelamatkan diri. sungguh ironis di mana kita mengaku diri sebagi orang percaya. menyala artikan berjaga-jaga dengan hal demikian. saya teringat akan cerita Alkitab yang mengisahkan perjalanan Yesus dan para murid saat berlayar dengan perahu kemudian angin ribut menyerang dan para murit ketakutan berteriak-teriak dan membangunkan Yesus. kita dapat mengatakan itu manusiawi tapi apa yang Tuhan Yesus katakan? Yesus berkata : "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. Matius 8:26,
perhatikan kisa di bawah ini:
http://show2.me/id/v/tuhan-tidak-tuli?eu=z8zvZyvcZlZ0
kenapa kita harus kwatir apakah dengan kekwaatiran kita akan merubah semuanya (Filipi 4:6)? tentu tidak.!. jadi buat apa kita kwatir ? itu hanya membuang-buang tenaga dan pikiran kita aja, sebab janji Tuhan ya dan amin, Dia tidak perna berdusta. dan mujizat slalu ada.! hal ini juga yang sering saya ingatkan buat beberapa teman yang bergaul dengan saya dan saya menggunakan istilah "BURUNG-BURUNG DI UDARA" semoga mereka masih ingat. Ayoo bergerak dan tetap semangat dalam Yesus Tuhan.!
 
Semoga Bermanfaat 
Tuhan Yesus Memberkati

Kamis, 14 November 2013

Hidup Itu Indah Jangan Di Persulit

Setiap orang yang membangun bekerja dengan berikatkan pedang pada pinggangnya, dan di sampingku berdiri peniup sangkakala. Nehemia 4:18.

Saat engkau menemui udara pagi ini cerah, langit hari ini biru indah, mengapa sibuk mencemaskan hujan yang tak kunjung datang? Padahal kalau saja kau nikmati adanya tanpa kesah, pastilah kau dapat mengerjakan begitu banyak kegiatan dengan penuh kegembiraan. Maka nikmatilah, jangan malah resah memikirkan hujan yang tak kunjung turun. Karena jika kau tak menikmatinya, maka saat tiba masanya hujan menggenangi tanahmu, kau pun kan kembali resah memikirkan kapan hujan berhenti.

Percayalah, semua ini akan berlalu, maka mengapa harus memikirkan sesuatu yang tak ada, namun suatu saat pasti akan hadir jua? Sedang hal itu hanya akan membuat kita kehilangan keindahan hari ini karena mencemaskan sesuatu yang belum pasti.
Bersyukur jauh lebih baik dan Bekerjalah
, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.Yohanes 6:27

Saat di depanmu terhidang nasi sayur tahu tempe, mengapa mesti sibuk berandai-andai dapat makan ikan, daging atau ayam ala resto? Padahal kalau saja kau nikmati apa yang ada tanpa berkesah, pastilah rasanya tak jauh beda. Karena enak atau tidaknya makanan lebih tergantung kepada rasa lapar dan mau tidaknya kita menerima apa yang ada. Maka nikmatilah, karena jika engkau terus mengharap makanan yang lebih enak, makanan yang ada di depanmu akan basi, padahal belum tentu besok engkau akan mendapatkan yang lebih baik daripada hari ini.
bersyukurlah karna di luar sana ada banyak orang yang tidak beruntung seperti anda, bahkan untuk mendapat sesendok nasi saja mereka harus mengais-ngais sampah dan meminta-minta.
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Sebab hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian. Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu! Lukas 12:22-24

Pekerjaan apapun yang kita kerjakan jika di tekuni dan dinikmati akan terasa indah dan sangat menyenangkan. banyak orang yang mengelu saat melakukan pekerjaan namun tanpa di sadari saat belum memperoleh pekerjaan kita selalu memohon dan meminta serta berharap Tuhan memberikan pekerjaan itu bagi kita. dan saat Tuhan memberikan pekerjaan itu kenapa kita mengelu saat menjalaninya?seharusnya kita dapat mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan lewat pekerjaan yang kita jalani, dengan cara bekerja dan menikmati perkerjaan tersebut. itu akan menjadi sangat indah saat kita menjalaninya dengan iklas dan mengandalkan Tuhan.

Dalam Pengkhotbah 3:11 mengatakan: “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekuatan dalam hati mereka”.  dapatlah kita katakan bahwa hidup kita unik, indah dan penuh pesona. Apa yang tidak kita rencanakan atau pikirkan itulah yang seringkali terjadi atau kita alami. karena kita emiliki jaminan atau garansi atau kepastian. kepastian itu muncul dari pernyataan Yesus sendiri, yang mengatakan: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6). Dari pernyataan Yesus itu ditentukan bahwa manusia tidak akan sampai pada kebenaran, kehidupan dan keselamatan yang sejati kecuali melalui diri-Nya. Jaminan keselamatan inilah yang membuat kehidupan kita manjadi kehidupan yang bergairah, dinamis dan indah. Keselamatan juga merupakan pemberian Allah dan itu didapat bukan karena perbutan baik kita, tetapi kasih karunia dari Allah (Efesus 2:8). Orang yang telah diselamatkan, tidak ada lagi ketakutan dan kekuatiran akan siksaan api neraka, setelah seseorang percaya kepada Yesus.
 “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikatm maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, ataupun mahluk lain, tidak akan dapat memisahkan kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus Tuhan kita” (Roma 8:37-39). Inilah kemenangan kita yang sejati, yaitu tidak ada sesuatu bahkan maut sekalipun yang sanggub memisahkan kasih Allah dalam Yesus dari hidup orang kristen, sehingga apapun yang terjadi, Allah akan tetap berada disamping umat-Nya. Jadi sebagai umat pemenang, janganlah iman kita goyah hanya karena tekanan hidup atau permasalahan, tetapi imani bahwa dalam kesesakan sekalipun, Tuhan adalah sumber kelegaan. 

Moto : BURUNG BURUNG DI UDARA (Lukas 12:22-24)

Tuhan Yesus Memberkati



Rabu, 13 November 2013

Alkitab Mengajarkan Betapa Indahnya Sebuah Pernikahan Kudus

Kejadian 2:24Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
Menikah sebagai panggilan Allah. Setiap orang laki-laki dan perempuan masing-masing  diciptakan  berbeda untuk disatuka  disebuah hubungan yang bertanggung jawab.
Menikah merupakan keadaan umum yang terjadi di dalam masyarakat, tetapi pernikahan Kristen adalah lembaga kecil yang ditetapkan Allah. Didalamnya orang tua dan anak saling berelasi, membagi kasih sayang di dan tumbuh dalam pengenalan akan Tuhan Allah.
Pada prinsipnya pernikahan terjadi antar laki-laki dan perempuan  (Kej 1: 26-28) dan bersifat monogami. Allah memberikan Adam kepada Hawa sebagai pendampignya yang sepadan . sebab itu mereka adalah satu saling setia dan tidak saling mengklaim.
Karakter pernikahan yang dibangun oleh suami-istri seharusnya bersifat vertikal dan horizontal, seumur hidup, monolitik dan bersaksi.
Keluarga Kristen memiliki relasi antara anak, orangtua dan orang-orang disekitarnya (secara horizontal) yang perluh dibangun dengan baik berlandaskan kasih. Disamping itu anggota keluarga perlu membangun relasi dengan Allah sebagai Tuhan pencipta dan pemelihara hidup.
Pernikahan ini haruslah bertahan seumur hidup sebagai kesetiaan dan kesucian dari perjanjian yang telah diikrar dihadapan Tuhan. Tambahan pula cara mengatasi masalah yang dihadapi sebaiknya diselesaikan secara bersama (bersifat monolitik) tanpa terburu-buru melibatkan pihak ketiga.
Kedudukan keluarga dalam masyarakat harus dipahami fungsinya sebagai unit pembentuk dan unit kesaksian. Keluarga sebagai unit pembentuk berperan membentuk pola masyarakat yang baik dengan cara mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai social yang telah ada serta melakukan sosialisasi untuk anak-anak dalam bergaul dan menyelasaikan masalah yang ada.
Keluarga sebagai unit kesaksian terpanggil untuk menyatakan kesaksian tentang injil secara aktif. Bagaimana melalui berbagai kesempatan anggota-anggota keluarga bisa menyatakan imannya kepada sesama lewat perbuatan dan perkataan mereka.
Saat membangun rumahtangga tentu tidak lepas dari masalah. Keluarga Kristen mengalami kegagalan karena suami-istri salah menentukan target dan arah keluarga serta ketidakmampuan mengelola keluarga.
Beberapa masalah yang muncul akibat ketidakcocokan dan krisis cinta adalah masalah seksual, beda pendapat, masalah keuangan, tidak memiliki potensi untuk memiliki anak (mandul) dan sebagainya.
Untuk menyelesaikan masalah diatas perlu adanya sikap saling terbuka satu sama lain, mengutamakan sikap monolitik dan tidak membiarkan masalah mengendap, biasakan mengatur pengunaan uang secara bersama dan tegar dalam menghadapi perbuahan dan yang paling uatama adalah mengundang Tuhan Masuk dalam Kehidupan Keluarga, dan mengandalkan Tuhan dalam setiap perkara serta kedepakan kasih.


-------------------------------------------------------------------------------------------------------

 literatur dan ringkasan dari --- Sujtipto Subeno, Indahnya Pernikahan Kristen sebuah Pengajaran Alkitab   :   Mumentum, tahun 2010, hlm:1-135. Salinan Agustina Putirulan @ Putirulan Blogspot.com