Minggu, 14 Juli 2013

Saat Firman Tuhan Tinggal Dekat Dengan Hidupku



"Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil" Mazmur 1 : 1 - 3

Saat Firman Tuhan dekat di pikiranku,
Aku akan mengetahui hal apa yang Tuhan mau,
hal apa yang Tuhan sukai, hal apa yang kudus dan berkenan di hatiNya,
dan bagaimana Ia memikirkan aku dan setiap anak-anakNya.
Saat Firman Tuhan dekat di lidahku,
Ucapan syukur akan tetap diam dalam mulutku,
dan aku akan mengatakan perkataan-perkataanNya yang manis didengar,
yang menyegarkan jiwa, yang menyembuhkan hati, yang menguatkan iman,
dan yang membangkitkan semangat.
Saat Firman Tuhan dekat di hatiku,
Aku akan dapat merasakan detak jantung Tuhan bagi jiwa yang terhilang,
Aku akan dapat mengerti tentang perkenananNya yang mulia,
Aku akan dapat mengalami bagaimana kasihNya mampu melenyapkan ketakutan dan kekuatiran di setiap sudut ruang hatiku.

Saat Firman Tuhan dekat di mataku,
Aku hanya akan melihat bahwa Bapa Penolongku jauh lebih besar dari masalahku,
rencana Tuhan penulis hidupku jauh lebih indah dari rencanaku,
dan visi Allahku yang perkasa jauh lebih mulia dari apa yang dapat aku lihat dengan mata jasmaniku.

Demikianlah hidupku di tangan Tuhan, dan saat FirmanNya tinggal dekat dengan hidupku,
Ia akan terus membawaku kepada kemenangan demi kemenangan.
 

Aku tidak pernah melihat sebuah kalimat datang dalam gumpalan asap di hadapanku yang bertuliskan : "Tenanglah nak, jangan takut, Aku di sini".
Namun, aku dapat merasakan di saat-saat sulit ataupun senang Dia berada di sisiku menenangkan dan menghiburku.
Aku tidak pernah mendengar sebuah suara menggema di dalam kamarku di tengah malam sambil berkata : "Aku mengasihimu dan menerimamu sepenuhnya".
Namun, aku mendengar di dalam ruang hatiku perkataanNya bahwa aku dikasihi dan berkenan, yang menjadi kekuatan saat aku mengalami penolakan dan kehilangan kepercayaan diriku.
Meskipun Allah tidak terlihat oleh mata jasmaniku, aku dapat melihat dengan imanku : bagaimana tanganNya tidak pernah terlambat untuk mengangkatku. Bagaimana telingaNya tidak kurang tajam untuk mendengar setiap doaku.
Tanpa terdengar, tanpa terlihat, tanpa dapat disentuh, penyertaan Allah nyata dalam setiap langkahku. PertolonganNya terukir dalam setiap musim di hidupku.
Setiap perbuatanNya yang ajaib tertulis dan dapat dibaca dalam setiap lembaran cerita hidupku, baik itu peristiwa-peristiwa susah yang mengharuskan aku berlutut, ataupun kemenangan yang membawa sukacita yang membuat aku melompat.
Di atas semuanya,
Sekalipun Tuhan tidak terlihat oleh mata jasmaniku, Ia tetap tidak terkalahkan.
Sumber : HTcom

Wari Waa



WARI WAA

             Sebelumnya beta telah menceritakan tentang Negeri Tihulale Amalessy , saat ini beta ingin menceritakan lagi tentang Wari waa yang ada di Negeri Tihulale Amalessy. Apa sih Wari waa.itu? Wari waa.adalah ikatan Persaudaraan adik kaka beda marga yang terjalin atas dasar sumpah dan janji yang harus di taati dan sangsinya bagi yang melanggar sumpah dan janji itu akan memperoleh hukuman dari Tuhan yang maha kuasa.

AWAL MULA TERJADI WARI WAA DI NEGERI TIHULALE AMALESSY
             Di zaman dahulu Negeri (Aman/Amane) Tihulale belum terbentuk, masyarakat Tihulale masih hidup berkelompok-berkelompok sesuai Mata Rumah (Ruma tau) masing-masing marga dan menetap pada daerah-daerah yang di kuasainya. Semua daerah-daerah yang di diami pada umumnya di pegunungan sekitar Gunung Totaniwel.  Misalnya Salawane di Pegunungan Haruaman tepatnya di Daerah Batu Salawane, Wairata dan sebagian Marga Lain di Daerah Pegunugan Kuasahai,  Dan Marga-marga lainnya menetap di daerah pegunungan lainnya.
Masing-masing Mata Rumah (Ruma tau) tidak saling mengenal pada saat itu dan sering terjadi peperangan antara Mata Rumah (Ruma tau) untuk mempertahankan wilayah, harga diri dan memperluas wilayah berburuh dan mencari makanan.
             Hal terus berlanjut tahun demi tahun di masa itu, sampai suatu saat terjadi peperangan yang sangat hebat yang melibatkan semua Mata Rumah (Ruma tau).  Saat itu semua Mata Rumah (Ruma tau) ingin memperluas wilayahnya ke daerah pesisir dan sekalian memperoleh garam untuk kebutuhan hidupnya. Saat beberapa marga telah menduduki daera pesisir baik di Amantawari maupun di pesisir lainnya terjadilah rasa ingin memiliki sendiri wilayah pesisir tersebut dari masing Mata Rumah (Ruma tau)karena daerah pesisir yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik.  Perangpun terjadi saat Mata Rumah (Ruma tau) dari Marga Sapury (Upu selai Pewaka Tanah makah hurui rua) menghalau marga lain untuk mencoba mendiami daerah pesisir dimana saat itu 7 kelompok kecil Mata Rumah (Ruma tau) di usir dan banyak dari mereka yang di bunuh.  Yang terusir kemudian meminta bantuan dari Mata Rumah (Ruma tau) Marga Atapary (Upu selai Pewaka Soo lalan). Perang besarpun tak terhindarkan banyak jatuh korban dari kedua bela pihak. Mata Rumah (Ruma tau) dari marga Sapury (Upu selai Pewaka Tanah makah hurui rua) terdesak karena kalah jumlah akhirnya meminta bantuan dari Mata Rumah (Ruma tau) Marga Tuapetel (Upu selai Pewaka Tanah makah hurui rua) dan perang trus berkecambuk hari demi hari memakan korban yang begitu banyak.  Mendengar peperangan itu Mata Rumah (Ruma tau) Marga Wairata (Pewaka Suri Au ) ingin datang dan segerah membantu Mata Rumah (Ruma tau) Marga Atapary (Upu selai Pewaka Soo lalan). Dalam perjalanan menuju pertempuran Pasukan Mata Rumah (Ruma tau) Marga Wairata (Pewaka Suri Au) di hadang oleh Mata Rumah (Ruma tau) Marga Pariama (Upu Panai Upu Rumah Lei selah) yang juga sudah mendengar peperangan itu dan ingin juga membantu Marga Sapury (Upu selai Pewaka Tanah makah hurui rua) dan pertempuranpun terjadi antara Marga Wairata dan Marga Pariama dalam perjalanan itu. Daerah-Daerah pesisir itupun menjadi ajang pertempuran hebat, Dari Gunung Haruaman Mata Rumah (Ruma tau) Marga Salawane  (Upu Ake upu rumah sitanamah) juga Turun untuk membantu Mata Rumah (Ruma tau) Marga Atapary dan Mata Rumah (Ruma tau) Marga Wairata namun dalam perjalanan itu mereka di hadang oleh Mata Rumah (Ruma tau) Marga Tuarissa (Upu Hutui upu Rumah Sourissa) yang juga sudah siap untuk membantu Marga Sapury,Tuapetel dan Pariama. Daerah pesisir itupun menjadi medan pertempuran sengit antara masing-masing Mata Rumah (Ruma tau) dan terus berlangsung hari demi hari tanpa di ketahui kesalahan masing-masing Mata Rumah (Ruma tau).  Semua Pasukan dari Mata Rumah (Ruma tau) memperlihatkan semua kehebatannya mulai dari Malesi sampai Kapitang masing-masing  Mata Rumah (Ruma tau) memperagakan kemampuannya mulaii dari menghindari senjata lawan sampai kebal terhadap senjata lawan. Perang terus berlanjut sampai datang Mata Rumah (Ruma tau)Marga Nusawakan (Upu uwen haubawa) yang di minta oleh Mata Rumah (Ruma tau) Marga Tualena (Upu Niai Upu Rumah Niniari) untuk menjadi penengah dan mendamaikan mereka yang sementara berperang. Terjadilah perundingan yang panjang dan perangpun berhenti ketika Mata Rumah (Ruma tau)Marga Nusawakan (Upu uwen haubawa) menyugukan sirih pinang dengan ujung parang dan di berikan pada masing-masing Mata Rumah (Ruma tau)dan di ambil langsung dengan mulut ke ujung parang tersebut dari semua Mata Rumah (Ruma tau) setelah itu Mata Rumah (Ruma tau)Marga Nusawakan (Upu uwen haubawa) menasehati mereka untuk berdamai dan merenung semua perbuatan mereka yang telah memakan banyak korban. Dari perundingan tersebut masing-masing Mata Rumah (Ruma tau) menyesali perbuatannya dan saling meminta maaf satu sama lainnya dan di sepakatilah suatu perdamaian dengan meletakan semua senjata dan parang mereka dan mengangkat sumpa untuk menjadikan lawan perang menjadi saudara yang di sebut Wari Waa (Wari=Adik  Waa=Kakak). Tempat di mana terjadinya perdamaian itu di beri nama Hata Lopu (Taru Parang/meletakan parang). Dan dalam perdamaian itu di buatlah sumpa dan janji antara masing-masing Mata Rumah (Ruma tau) sebagi berikut:
·         Mata Rumah (Ruma tau) Marga Wairata (Pewaka Suri Au ) Wari Waa dengan Mata Rumah (Ruma tau) Marga Pariama (Upu Panai Upu Rumah Lei selah)
·         Mata Rumah (Ruma tau) Marga Salawane  (Upu Ake upu rumah sitanamah) Wari Waa dengan Mata Rumah (Ruma tau) Marga Tuarissa (Upu Hutui upu Rumah Sourissa)
·         Mata Rumah (Ruma tau) Marga Atapary (Upu selai Pewaka Soo lalan) Wari Waa dengan Mata Rumah (Ruma tau) dari Marga Sapury (Upu selai Pewaka Tanah makah hurui rua) dan Mata Rumah (Ruma tau) Marga Tuapetel (Upu selai Pewaka Tanah makah hurui rua)
·         Mata Rumah (Ruma tau) Marga Tualena (Upu Niai Upu Rumah Niniari) Wari Waa dengan Mata Rumah (Ruma tau)Marga Nusawakan (Upu uwen haubawa)
·         Mata Rumah (Ruma tau) Hursina (Upu matita) dengan Mata Rumah (Ruma tau)Marga Supusina

Dengan beberapa butir pernyatan sebagi berikut :
·    Dilarang kawin-mengawini antara Wari Waa
·    Saling membantu dalam susah dan senang
·    Jika ada terjadi adat perkawinan maka yang menjadi juru bicara adalah dari Wari Waa

Dengan sanksi apabilang dari sumpah dan janji tersebut ada yang melanggar maka:
·    Akan mendapat hukuman dari Tuhan yang maha kuasa (Upuloterumi) dan para leluhur.
·    Jika saling mengawini maka tidak akan memiliki keturunan atau jika memiliki akan mengalami cacat atau rumah tangganya berantakan.
·    Terkena penyakit Mata Rumah (suatu penyakit yang tidak dapat di sembuhkan)
·    Di asingkan dari Negeri (aman)

            
Cerita ini adalah cerita rakyat yang berkembang di masyarakat namun untuk kebenarannya tidak dapat di pastikan. Namun  dari peristiwa tersebut terciptalah Wari Waa yang masih terpelihara sampai saat ini walaupun masih saja ada beberapa orang yang telah melanggar sumpah dan janji tersebut dan telah memperoleh hukumannya sesuai aturan adat dan sanksi yang berlaku.

Jumat, 12 Juli 2013

Beta Kira Kalapa Sarambu.


Par satu kali bagini Etus dang Maku ni dong dua pi nai kalapa kebetulan hari itu buka sasi basar, jadi dong dua pagi-pagi lai su siapkan bakal for pi nai kalapa, maku ni sadiki nona lai jadi dong pi matahari su tinggi, sampe di dusung bagini terjadilah dialog antara Etus dan Maku mengenai dong dua pung kegiatan hari itu.:
Etus : Maku e ose nanti biking bersi dusun saja nanti beta yang naik kalapa,
Maku: ao seng bisa macam begitu beta jua mau nai lai, ale kira beta ni parampuang ka.
Etus: bukang bagitu Maku, pohong-pohong kalapa ni samut banya
Maku : ao samut saja mo, beta rams sakali mati
Etus :  io sudah tapi ale nai yang randa-randa saja e.
Maku: io mantap nanti kalu beta su mau nai beta bilang ale la katong dua baku taru sapa yang banya kasih jatu kalapa.
Etus : ator saja nyong gogos ee,
Etus nai dia pung kalapa capat-capat dia su istrahat yo Maku ada tahai deng dia pung kalapa la suru Etus hitung barang samut ada bala dia di atas pohong.
Maku mulai kasih jatuh  kalapa Etus hitung " satu sambil biking tali for dia pung kalapa Etus hiting tarus dua, tiga, ampat, tiba tiba Etus dengar kaya suara Jatuh ni basar Etus yakin ini Etus kalah karna yang jatuh ni pasti sarambu, Etus bataria Maku ee Sarambu.....Maku balas Etus eee tolong beta samut papar beta sampe beta satana ni eeeee,  Etus lari capat-capat ka bawa pohong yang Maku jatu la Etus bilang Maku e beta kira ale for kalapa sarambu pada hal samut papar ose tua ka... hahahahaha


Kamis, 11 Juli 2013

SOPI


   
Sopi merupakan fermentasi dari pohon Mayang (Aren) dan Kelapa yang memiliki kadar alkohol diatas 50%., dan merupakan meniman tradisional orang Maluku baik dalam acara Adat maupun acara-acara pesta lainnya.
Mendegar kata Sopi, bukanlah hal yang asing bagi masyarakat  di Maluku terkusus Negeri Tihulale Amalessy. Bagi sebagian besar masyarakat Minuman sopi ini sangat menjanjikan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi sopi ini yang hancur leburkan oleh aparat keamanan karena dianggap sebagai biang keladi terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban padahal banyak sekali orang tua membesarkan dan menyekolahkan anaknya dari hasil sopi ini,

Proses pengambilan Air Nira (tipar)

Sopi biasanya di ambil dari Pohon Maya/Aren (Arenga Pinnata) dan Pohon Kelapa (Cocos nucifera) dengan cara di penyadapan (dalam bahasa Maluku di sebut tipar )untuk di ambil air niranya atau dalam bahasa Maluku di sebut Sageru.






Proses Penyulingan
Jika air nira sudah di rasa cukub maka nira yang di kumpukan akan di masak atau di suling untuk menghasilkan sopi, dengan kadar alkohol yang nantinya akan di soda lagi dengan sopi yang berkadar alkohol renda, biasanya jika sopi hasil tadahan sulingan pertama yang memiliki kadar alkohol lebih tinggi sehingga jika di bakar akan terbakar seperti spertus.




Pengambilan Sopi (tada sopi)
Nira yang di masak atau di suling pada tingkat panas tertentu akan menguap dan menjadi cait itulah sopi, yang kemudian di gunakan untuk menuman penghangat dan minuman adat di Maluku.
jika nira di masak dalam wadah tertentu seperti durum bekas maka akan menghasilkan paling banyak  6-8 Ciregen bimuli yang kemudian di soda lagi satu sama lainnya supaya menghasilkan sopi dengan kualitas baik.
harga sopi berkisar Rp 30.000- 50.000 per cirigen tergantung kualitas dan jenisnya, jika sopi itu dari Kelapa maka harganya akan rendah, namun jika sopinya dari Aren maka harganya akan tinggi.

Di negeriku Tuhulale sendiri Sopi masih terus diproduksi. Sopi memang dipandang illegal tapi keberadaanya tetap dibutuhkan untuk memutar roda ekonomi rakyat di negeriku dan juga karena telah berakar dalam kehidupan masyarakat negeriku dan Maluku pada umumnya.
satu hal yang perlu benahi adalah cara kita di maluku mengkonsumsi sopi, jika konsumsinya untuk kepentingan adat maka jelas tidak akan berdampak pada kerusakan dan anarkis, namun jika di konsumsi untuk maksud tertentu dan hura-hura sehingga minum sampai memabukan maka jelas akan menimbulkan hal-hal yang negatif yang justru akan merugikan.



Rabu, 10 Juli 2013

Carita Sadiki Tentang Beta Pung Negeri


                                       Beta Pung Negeri akang pung nama Tihulale Amalessy


      Negeri Tihulale Amalessy mungkin bagi banyak orang belum mengenal Negeri ini, Sebuah Negeri yang sejuk dan asri benar-benar sangat menyenangkan jika kita hidup dan menikmati alam di sana. 
Dari kecil Beta sangan mencintai Negeri ini, rasa cinta itulah yang memberikan kekuatan postif buat Beta untuk bercerita tentang Negeri Tercinta.

Negeri begitulah masyarakat kami di Maluku menyapanya seperti Desa di Pulau Jawa namun Kami tidak memiliki Kepala Desa melainkan Raja (Upu Latu) yang di hormati sebagi Pimpinan tertinggi di dalam Negeri. Begitu pulah yang terjadi di Negeriku Tihulale Amalessy Tercinta, Negeri yang sangat beta banggakan. Negeri di mana Bapa dan Mama Tinggal membesarkan, mendidik dan menjaga beta hingga tumbuh menjadi dewasa. Negeri di mana memberikan beta masa kecil yang bahagian dan penuh kegirangan, hidup menikmati semua yang alam sediakan.

Negeriku ini terletak di kaki sebuah Gunung yang bernama Totaniwil yang juga di banggakan oleh basudara di Negeri.

Negeriku Tihulale (Amalessy ) adalah salah satu negeri adat di Maluku yang berada tepat di wilayah tiga batang air (Tala Eti Sapalewa),, menurut para sejarahwan dari pusat tiga batang air (Nunusaku) inilah semua negeri-negeri adat di Maluku berasal.
Negeriku berada tepat di wilayah Kecamatan  Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat dengan batas wilayah:
* Sebelah utara berbatasan dengan Hutan Negeri Huku dan Hunitetu
* Sebelah selatan berbatasan dengan Selat Seram
* Sebelah timur berbatasan sekarang dengan Rumakay (Amakele) Air Seaputi
* Sebelah barat berbatasan sekarang dengan Negeri Kamariang (Amalohi) Air Nama Eri


Dapat di tempuh kira-kira 54.0 KM Dari Kota Ambon, 2.6 KM Rumakay, 8,3 KM dari Pelauw, 9,5 KM dari Kulur dengan Tihulale koordinat dan elevasi ::Lintang (lat): 3 ° 27'0 "SBujur (lon): 128 ° 30'0 "EElevation (approx.): 16m
 
Negeriku Tihulale (Amalessy) awalnya berbentuk koloni-koloni berdasarkan marga kemudian menggabungkan diri menjadi soa dan menjadi satu kesatuan Negeri di bawah pemerintahan Upu Latu yang sangat di hormati dan di hargai.



Bahasa yang di gunakan adalah bahasa Waemale-Alune dan Melayu Maluku, terdiri dari 11 Marga Asli di antaranya: Wairata, Salawane,Tuarissa,Atapary, Tualena, Hursina, Tuapetel, Sapury, Nusawakan, Pariama, Sopusina ( Untuk marga Sopusina di Negeri sudah tidak ada lagi yang hidup,) sementara marga di luar marga asli di sebut Malamait di antaranya ada Watimury, Pelamonia, Sihai, Saia, Kelelupna, Lesnussa dll, Tihulale sendiri memiliki arti di Kelilingi Telaga sementara Amalessy artinya Bapak Lebih. Dari marga-marga asli tersebut memiliki Teong masing masing dan tergabung dalam soa dan juga terikat pada adat wariwaa.



Teong"
Teong beta artikan sebagi Panggilan Gelar Mata Rumah Masing-Masing Marga di Negeriku, dari marga-marga di Negeriku dapat beta bagikan nama-nama Teongnya sebagi berikut:


Wairata (Upu Pewaka Suri Au)

Salawane (Upu Ake upu rumah sitanama)
Pariama (Upu Panai Upu Rumah Lei selah)
Atapary (Upu selai Pewaka Soo lalan)
Tualena (Upu Niai Upu Rumah Niniari)
Tuarissa (Upu Hutui upu Rumah Sourissa)
Sapury (Upu selai Pewaka Tanah makah hurui rua)
Tuapetel (Upu selai Pewaka Tanah makah hurui rua)
Nusawakan (Upu uwen haubawa)
Hursina (Upu matita)

Soa"
Soa dapat beta artikan sebagi rukun warga seperti sistim pemerintahan saat ini, di Negeriku ada tiga soa yaitu: 

Soa Kukur (Atapary, Tuapetel, Sapury)
Soa Harur (Salawane, Tuarissa, Tualena Nusawakan)
Soa Lalan (Wairata,Pariama, Hursina)

Wari-waa"

Wari-waa  beta artikan sebagi ikatan persekutuan gandung adik kaka beda marga satu Negeri (Persekutuan adik  kaka dalam pekwinan menyangkut adat) berdasarkan sumpa dan janji yang harus di jaga dan di patuhi. di negeriku terdapat wari-waa sebagi berikut:
Wairata Wariwaa dengan Pariama
Salawane Wariwaa dengan Tuarissa
Atapary Wariwaa dengan Sapuri dan Tuapetel
Tualena Wariwaa dengan Nusawakan 
Hursina Wariwaa dengan Supusina




Negeriku Tihulale (Amalessy) sendiri adalah bagian dari saniri Tala Eti Sapa lewa, dan berada pada saniri Ina Ama Talabatai yang beranggotakan negeri-negeri adat di antaranya Negeri Latu-Hualoy ( Ina Ama Tuni Siwalete Sarimetene ), Negeri Kaibobu ( Ina Ama Tahisane Poput Samale ), Negeri Elpaputih ( Ina Ama Tahisane Pesihalule ), Negeri Kairatu ( Ina Ama salibubui ), Negeri Watui ( Ina Ama Sailewoi), Negeri Huku Kecil dan Huku Anakota (Moin Nikwele), Negeri Lohia Tala ( Lohie ), Negeri Tihulale ( Amalessy Risapory Sariata ), Negeri Makariki (Siwalete Maatita), Negeri Amahai (Lounussa Maatita), Negeri Soahuku (Riripori Kalapessy) dan Negeri Wasia (Mauwen Tinai), yang berada diwilayah air Tala (Sungai Tala) 

Lembaga tertinggi di Negeriku Tihulale (Amalessy) adalah Badan Saniri Negeri, Negeriku Tuhulale ( Amalessy) sendiri di Pimpin oleh Raja ( Upu Latu) yang di bantu Wakil Raja, (sekarang di gunakan sekertaris), Kewang ( Polisi Hutan), Marinyo (Juru Bicara/Pemberi pesan atau Tita raja) Kepala-Kepala Soa, Kapitang, Maueng, dll.

Negeriku Tihulale (Amalessy) memiliki 3 anak dusun masing di pimpin oleh kepala dusun yang di pilih oleh warga, 3 anak dusun tersebut adalah, Dusun Lahena, Dusun Hatukawa, dan Dusun Waiitibu (Penduduk muslim buton yang di berikan tempat di oleh Negeri Tihulale, namun saat konfilk Maluku sudah meninggalkan dusun tersebut dan sudah di tempati oleh anak Negeri Tihulale Amalessy sendiri)



Warga Negeriku beragama Kristen, terdiri dari 99 % adalah Protestan dengan 1 buah Gereja dan 1 % Adven dengan 1 buah Gereja, dengan bermata pencaharian : Petani/Peternakan, Nelayan, Pns, Polisi/Tentara, Pedagang/Papalele, Wirasuasta, dengan hasil Perkebunan berupa Pala, Cengke,Kalapa (saat ini untuk hibridah dijadikan sopi),Sagu, Coklat, Rambutan, Durian, Gandaria dll, untuk hasil laut berupa Ikan, Kerang (Bia), Taripang (teripang), dll, hasil hutang berupa Kayu (Meranti,Lenggua,Nani, Besi, dll) Rotan, Damar dll


Di Negeri Tuhulale Amalessy memiliki tingkat pendidikan mulai dari Pendidikan Usia Dini (PAUD) Taman Kanak-Kanak (TK) dengan satu bangunan sekolah, Sekolah Dasar (SD) dengan satu bangunan sekolah, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP atau SMP) dengan satu bangunan Sekolah, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA atau SMA) dengan satu bangunan sekolah,





Negeriku mengenal tiga macam cara perkawinan yaitu Kawin minta, Kawin Lari, dan kawin masuk .
Kawin Minta.
Kawin Minta yang terjadi apabila seorang pemuda telah menemukan seorang gadis yang hendak dijadikan istri, maka ia akan memberitahukan hal itu kepada orang tuanya. Kemudian mereka mengumpulkan anggotafamili untuk membicarakan masalah itu dan membuat rencana perkawinan. Disini diperbincangkan pula pengumpulan kekayaan untuk membayar mas kawin, perayaan perkawinan dan sebagainya. Akan tetapi cara perkawinan semacam ini umumnya kurang diminati terutama bagi keluarga ang kurang mampu karena membutuhkan biaya yang besar.

Kawin Lari
Kawin Lari atau Lari Bini adalah sistem perkawinan yang paling lazim. Hal ini terutama disebabkan karena pasangan umumnya lebih suka menempuh jarak pendek untuk menghindari prosedur perundingan dan upacara. Kawin lari sebenarnya tidak diinginkan dan dipandang kurang baik oleh kaum kerabat wanita namun disukai oleh pihak pemuda. Terutama karena pemuda hendak menghindari kekecewaan mereka bila ditolak dan menghindari malu dari keluarga pemuda karena rencana perkawinan anaknya ditolak oleh keluarga wanita. Bisa juga karena takut keluarga wanita menunggu sampai mereka bisa memenuhi segala persyaratan adat.

Kawin Masuk (Manua)
Kawin Masuk atau Kawin Manua. Pada perkawinan ini, pengantin pria tinggal dengan keluarga wanita. Ada tiga sebab utama terjadinya perkawinan ini:
  1. Karena kaum kerabat si pria tidak mampu membayar mas kawin secara adat.
  2.  Karena keluarga si gadis hanya memiliki anak tunggal dan tidak punya anak laki-laki sehingga si gadis harus memasukkan suaminya ke dalam klen ayahnya untuk menjamin kelangsungan klen.
  3. Karena ayah si pemuda tidak bersedia menerima menantu perempuannya yang disebabkan karena perbedaan status atau karena alasan lainnya.

Makanan Tradisional berupa Papeda, Sagu Lempeng, Ikang Bakar deng colo-lolo, sanyoli, ulat sagu, kasbi/singkong (apalagi kasbi kuning baliling), dll. Alat Muslk yang biasa di mainkan : Suling Bambu, Juk/Ukulele, Kulia Bia/Kulit Kerang, Tifa, Gong. Tarian yang biasa di mainkan adalah Cakalele/tari perang, Tari Lenso, Tari Bambu Gila, Tari Gaba-gaba, dll, Permainan Tradisional yang biasa di maiankan yaitu, Patok Kanari, Oles, Leng-Kalileng, Sumpit biji Taspeha, Tirem/perang-perangan, Benteng dan masih banyak lagi permainan yang beta sandiri su lupa akang pung nama

 Negeri ku ini sangat khas dengan alam yang masih alami baik hutan dan lautan serta kehidupan penduduknya, Seni-budaya dan tradisinya. Banyak jenis burung-burung langka mulai dari kakatua hitam, kakatua putih, sampai burung nuri. Keunikan lainnya di Negeriku ini terdapat sebua telaga yang sangat indah saat musim penghujan, di mana banyak sekali burung-burung imigan yang datang bertelur dan mencari makan di telaga tersebut, masyarakat di Negeriku memanggilnya Telaga Tihu. selain Telaga Tihu ada juga yang tidak kalah menarik yaitu Air Terjun, di Negeriku terdapat dua 3 buah Air terjun, yaitu Air terjun Tane, Air terjun Lahena, Air Terjun Wailatu. ketiga air terjun ini sama sekali belum perna di garap, namun sering di gunakan untuk menjadi tempat rekriasi oleh muda-mudi di Negeriku saat Liburan Akhir tahun terutama Air terjun Tane.


Selain Telaga dan Air terjun di Negeriku juga memiliki keindahan pantai yang tidak kalah menarik dengan pantai-pantai di Dunia, pasirnya tidak putih seperti pantai pada umumnya, pasir yang memiliki ciri tersendiri dan akan berwarna jingga saat terkena sina matahari ketika terbenam. laut yang jerni dan terumbu karang yang indah membuat Beta selalu rindu untuk pulang dan menikmati semua kehindahan itu yang tidak beta dapat di tempat sekarang ini.

Tradisi dan budaya yang ada di Negeriku masih di jaga sampai saat ini, mulai dari tradisi Masohi, Pelantikan Raja, Sasi, Panas Pela, Perkawinan dll.




kalau sempat berkunjung ke Negeriku anda pasti akan ketagian dengan rasa buah Durian khas Negeriku, sangat lejat durian yang langsung jatuh dari pohon, jika anda dalam perjalanan melintasi Negeriku saat musim durian anda akan menemukan durian dengan harga dan rasa yang bisa membuat anda ketagian.

Jika perjalanan anda dari kota Ambon menuju ke Masohi Ibu Kota Kabupaten Maluku Tengah menempu jalur darat anda akan melalui beberapa Negeri sebelum melewati Negeri Tihulale Amalessy, Mulai Dari Waipirit, Gemba, Kairatu, Kelapa dua, Seriawan, Kamariang dan kemudian anda akan melalui petuanan Negeri Tihulale mulai dari batas Negeri di Waimeten, Tihuain, selanjutnya Waitibu,Sapirwaeng, Herlesy, Waisapa, Risamahu, Waihira, Amantawari, Masuk Negeri Tihulale, Lahena dan berakir di Seputih, selanjutnya anda akan masuk petuanan Negeri Rumakai dan seterusnya sampai di Masohi.
 

Mungkin ini Beta pung carita  tentang Negeri di mana Beta di besarkan, sesuai dengan apa yang beta alami, beta dengar dan rasakan di Negeri yang beta cinta. bagi anak Negeri yang merasa apa yang beta ceritakan keliru dan masih kurang mohon masukan dan kritiknya.
Yang belum perna datang dan mengetahui Beta pung negeri Semoga Penasaran dan mau berkujung.